OposisiNews

Berita

Ekonomi

Pilpres

Politik

Hukum

Selasa, 05 Maret 2019

AMAZING! Kok Bisa Bohong Dalam Satu Tarikan Nafas


VIDEO viral pengakuan Jokowi soal masa kecilnya, dimana lahir, dan bagaimana rumahanya digusur...

Video dari MetroTV saat Pilpres 2014 lalu, tampak dari baju kotak-kotak yang dipakai Jokowi.

Yang bikin warganet tepok jidat, bener-bener speechless, gak bisa komen apa-apa lagi dari video ini adalah omongan Jokowi yang dalam satu tarikan nafas tapi bertolak belakang.

Di awal Jokowi ngaku berumur 4 tahun saat rumahnya digusur..

Lalu di akhir omongannya Jokowi mengatakan berumur 10 tahun..

Betul-betul amazing!!!

YA ALLAH.... ngelus dodo..

Simak videonya:


Jumat, 01 Maret 2019

Pepesan Kosong Ridwan Kamil

Gubernur Jabar Ridwan Kamil mengklaim ada 4 juta pendukung paslon Prabowo-Sandi di Jabar yang balik kanan mendukung Jokowi-Ma’ruf. RK mengaku data itu diperolehnya dari sebuah survei.

Kita harus menyikapi pernyataan RK ini sebagai klaim seorang politisi. Jangan langsung percaya. Tapi juga jangan terlalu curiga. Woles saja.

Cara terbaik membuktikan klaim politisi adalah dengan mengujinya. Kita hadapkan dengan fakta-fakta.

Pada Pilpres 2014 Prabowo-Hatta memperoleh: 14.167.381 (59,78 persen) Jokowi-JK: 9.530.315 (40,22 persen). Total suara sah: 23.697.696. Artinya, kalau benar klaim RK, suara Jokma sudah naik sekitar 40%.

Pada Pilkada 2018 RK yang berpasangan dengan Uu Ruzhanul Haq memenangkan kursi Gubernur Jabar. RK-Uu memperoleh 7.226.254 (32,88 persen), disusul pasangan calon Sudrajat-Ahmad Syaikhu dengan perolehan suara sah sebanyak 6.317.465 suara (28,74 persen).

Kemudian posisi ketiga ditempati pasangan calon Deddy Mizwar-Dedi Mulyadi dengan suara sah sebanyak 5.663.198 (25,77 persen), dan terakhir ditempati pasangan calon TB Hasanuddin-Anton Charliyan dengan suara 2.773.078 (12.62 persen).

Dari perbandingan Pilpres 2014 dan Pilgub 2018 selisih perolehan suara RK dengan Jokowi sekitar 2.3 juta. Jadi basis suara RK dan Jokowi hanya sekitar 7-9 juta pemilih.

Sebagai figur yang dikenal sangat populer di media sosial, basis utama RK adalah perkotaan seperti Bandung. Hal itu menjelaskan mengapa figur yang minim pengalaman seperti dia, bisa terpilih menjadi walikota Bandung. Jangan dilupakan ada faktor PKS dan Gerindra yang menjadi pendukungnya.

Apakah RK masih populer di kota Bandung dan sekitarnya? Ketika menonton pertandingan Persib melawan Arema Malang (18/2) di Stadion Jalak Harupat, Soreang, Kabupaten Bandung, RK mengalami pengalaman yang memalukan.

Ribuan bobotoh Persib meneriaki RK dan istrinya Atila Kamil dengan koor “Prabowo…Prabowo!”. RK dan istrinya mukanya terlihat memerah. Dia pasti tidak menyangka akan mendapat perlakuan seperti itu dari bobotoh Persib. Mereka notabene adalah pendukungnya sewaktu menjadi Walikota Bandung.

Pengalaman serupa kembali terulang. Kali ini dia mengalami langsung bersama Jokowi. Mobil rombongan yang dinaiki Jokowi dan RK disambut yel-yel Prabowo….Prabowo ketika menghadiri Munas Alim Ulama NU di Tasikmalaya, Rabu (28/2).

Dua fakta ini saja sudah bisa memberikan gambaran bahwa Jabar masih tetap menjadi kandangnya Prabowo. Koor suporter yang meneriakkan kata Prabowo bisa diartikan sebagai protes atas sikap RK yang membelot ke kubu Jokowi.

Ketika maju sebagai calon Walikota Bandung (2013) RK bukan siapa-siapa. Dia hanyalah seorang arsitek berpenampilan kalem dan publik tidak mengenalnya. Dia kemudian diusung oleh PKS dan Gerindra berpasangan dengan tokoh PKS M Oded Danial. Bolehlah dia disebut sebagai representasi Gerindra.

Tak lama setelah terpilih menjadi Walikota Bandung, RK mulai menampakkan jati dirinya. Dalam berbagai kesempatan dia menyatakan sebagai sosok yang netral, tidak terkait dengan parpol manapun. Dia mulai meghilangkan jejak PKS dan Gerindra sebagai partai yang sangat berjasa mengusungnya.

Pada Pilgub 2018 RK melihat peluang untuk maju sebagai cagub. Dia kemudian lompat ke Nasdem setelah mendapat tekanan hukum. Sebagaimana pengakuannya kepada media, dia bersedia dicalonkan Nasdem karena takut. Partai milik Surya Paloh itu punya media dan Jaksa Agung.

Salah-salah dia bisa menjadi tersangka. Banyak masalah hukum yang membelitnya selama menjadi walikota.

Salah satu syarat menjadi cagub Nasdem adalah mendukung Jokowi pada Pilpres 2019. RK bersedia. Dia berada di kubu yang berseberangan dengan Prabowo, figur yang sangat berjasa mendukungnya. Sampai disini RK masuk dalam satu barisan dengan Ahok, figur yang sangat dikaguminya.

Sikap RK yang tidak mengenal terima kasih dan setia kawan inilah yang kelihatannya membuat bobotoh Persib menjadi antipati. Setia kawan adalah prinsip utama bobotoh Persib. Untuk membela bobotoh yang lain, mereka bersedia mati. Dapat dipastikan RK sudah kehilangan basis utamanya.

Di media sosial RK juga sudah mulai kehilangan pesonanya. Ribuan komen dari netizen ikut menyorakinya ketika dia dipermalukan oleh bobotoh Persib.

Di kalangan ulama? Nah ini yang menjadi persoalan utama RK. Sejak bergabung dengan para penista agama, secara matematis dia sebenarnya sudah selesai. Jabar adalah basis utama pendukung gerakan 212. RK terselamatkan pada Pilgub 2018 karena suara umat terpecah.

Pecah kongsi antara Deddy Mizwar dengan Syaikhu membuka peluang bagi kemenangannya. Andai Deddy Mizwar dan Syaikhu tidak berpisah di tengah jalan, rasanya tidak mungkin RK menang.

RK-Uu hanya memperoleh suara sebesar 32,88 persen, tidak terpaut jauh dari pasangan Adjat-Syaikhu 28,74 persen dan Deddy Mizwar- Demul 25,7 persen.

Fakta-fakta di atas membuktikan, klaim RK hanya pepesan kosong. Dia coba menyenangkan Jokowi dan harus mempertanggungjawabkan perjanjiannya dengan Nasdem.

Segala cara akan dilakukan untuk memenangkan Jokowi. Tiasa kang?

The End.

Penulis: Djajang Nurjaman

Relawan Prabowo: Budiman Sudjatmiko Harus Minta Maaf Kepada Seluruh Emak-emak


Relawan Prabowo-Sandi yang tergabung dalam #PASTI2019 mengecam keras pernyataan politisi PDIP Budiman Sudjatmiko di media yang menuduh kubu 02 berkampanye dengan cara-cara yang mirip teroris atau menculik.

"Itu fitnah dan tuduhan keji di atas kemerdekaan berdemokrasi," kata Wasekjend Kornas #PASTI2019 Toto Sugiarto, Jumat (1/3).

Hal itu diungkapkan Budiman untuk merespons penangkapan tiga orang perempuan relawan Partai Emak-emak Pendukung Prabowo-Sandi (PEPES) Karawang atas dugaan kampanye hitam di Karawang.

Dia menilai strategi kampanye hitam kubu Prabowo-Sandiaga mirip teroris karena kerap mengandalkan kaum perempuan sebagai tameng untuk menjalankan aksi-aksi kampanye hitam.

Jelas Toto Sugiarto, penangkapan yang dialami oleh aktivis emak-emak relawan PEPES di Karawang, itu tidak mendasar, dan ini juga sebagai pernyataan bodoh yang dilontarkan oleh seorang tokoh politisi mantan aktivis yang seharusnya tidak patut dilontarkan.

"Tuduhannya adalah bukti kepanikan melihat apresiasi perjuangan emak-emak militan seluruh nasional dari pelosok-pelosok desa dan kota yang turun gunung," ungkap Dewan Pendiri Keluarga Gerakan Indonesia Raya (KGI) ini.

Emak-emak yang ghirohnya melebihi semangat bapak-bapak dalam perjuangannya, mereka hanya mau Indonesia adil dan makmur serta menjadi tuan rumah di negeri sendiri tanpa kelaparan dan kesusahan.

"Dan kami dari semua relawan menganggap ini bukan sebagai target politik yang dikorbankan oleh BPN Prabowo-Sandi. Saya sebagai pelaku dan bagian dari relawan Prabowo-Sandi menganggap itu fitnah yang sangat keji apalagi dituduhkan kepada seseorang yang belum mempunyai kekuatan hukum tetap dan semua masyarakat yang menginginkan perubahan," tutur Toto Sugiarto.

Menurutnya, fenomena Pilpres 2019 atas meluasnya dukungan emak-emak keluar dari dapur itu adalah hal positif di negara demokrasi. Artinya masyarakat sudah mulai cerdas dan tidak mau dikebiri oleh penguasa, karena kaum emak-emak sebagai korban pertama yang merasakan kesusahan jika pemerintah tidak cakap menjalankan roda ekonomi pemerintahan.

"Tanpa disadari Budiman yang ketua partainya juga emak-emak dan masih banyak kader partainya dari kaum politisi perempuan, harusnya menyadari kecerdasan berpikir taktis serta reaktif dan kepekaan hati dari kaum perempuan," ucapnya.

"Menurut kami Budiman harus meminta maaf terhadap semua emak-emak atau kaum perempuan di seluruh nusantara yang berjuang untuk perubahan, dan mencabut tuduhan fitnah keji tanpa data dan bukti kepada emak-emak, itu kalau memang Budiman lelaki sejati," tutup Toto Sugiarto menambahkan.

Amien Rais: Sejak 6 Bulan Lalu Sudah Ada Kecurangan Luar Biasa

Ketua Dewan Kehormatan Partai Amanat Nasional (PAN), Amien Rais, merasa bahwa dalam waktu enam bulan terakhir sudah ada gejala-gejala kecurangan dalam Pemilihan Umum 2019.

"Jadi kalau kita mau jujur, sejak 6 bulan yang lalu sudah kentara adanya gejala-gejala kecurangan yang luar biasa. Misalnya, dalam daftar DPT (daftar pemilih tetap), itu ada 31 juta yang bodong. Disisir habis," ujar Amien Rais di depan kantor Komisi Pemilihan Umum, Jakarta Pusat, Jumat, 1 Maret 2019.

Selain itu, kata Amien, banyak ditemukan Kartu Tanda Penduduk Elektronik atau e-KTP yang dibuang di sawah.

"Bayangkan ratusan ribu KTP elektronik itu dibuang di hutan, dibuang di sawah, di semak-semak, jatuh di jalan dan lain. Ini apa-apaan?" tuturnya.

Oleh karena itu, mantan Ketua Majelis Permusyawaratan Rakyat itu meminta kepada KPU agar betul-betul transparan, jujur, adil, dalam melaksanakan pesta demokrasi, baik pemilihan legistlatif maupun pemilihan presiden.

"Maka siapa pun yang menang, yang kalah akan terima. Tapi kita juga punya tim IT yang luar biasa. Kalau sampai terbukti nanti ada kecurangan yang sistematik kemudian masif terukur, maka jangan pernah menyalahkan kalau kita akan melakukan aksi-aksi politik," tuturnya.

"Bukan perang total ala Moeldoko, tapi kita perang politik, bahwa kebenaran harus ditegakkan," Amien menambahkan.

Popularitas Prabowo Melejit, BPN: Sinyal Jokowi akan Kalah

Popularitas calon presiden nomor urut 02 Prabowo Subianto kian memepet capres petahana nomor urut 01 Joko Widodo. Tingkat popularitas ini dipantau dari pencarian topik pada Google Trends.

Merespons dinamika itu, Juru Bicara Badan Pemenangan Nasional (BPN) Prabowo Subianto-Sandiaga Uno, Ferdinand Hutahaean, menilai sebagai hal yang positif. Meski memang popularitas dari Google Trends ini tak bisa disamakan dengan elektabilitas.

"Tren percakapan di Google Trends antara Prabowo dan Sandiaga Uno ya memang sesuatu yang positif. Ini tak bisa diibaratkan atau dibandingkan dengan elektabilitas, karena percakapan ini bisa positif dan negatif. Bisa ingin perbincangkan atau suka memperbincangkan," kata Ferdinand, Jumat, 1 Maret 2019.

Ferdinand mewakili BPN berharap, dengan popularitas yang kian melonjak, maka berimbas terhadap elektabilitas Prabowo. Mengingat hari pemungutan suara menyisakan 46 hari lagi.

"Kita berharap lebih tingginya diperbincangkan itu terkonversi menjadi elektabilitas. Ini sinyal Jokowi akan kalah 2019 nanti," tutur Ferdinand yang juga Ketua DPP Demokrat itu.

Meski dia mengakui, memang tak mudah mengalahkan petahana yang memiliki segala kemampuan. Ditambah, dari segi finansial, kubu Prabowo kalah jauh dibandingkan Jokowi.

"Kubu Jokowi dengan masif perang total dengan kekuatan finansial cukup besar menghujani medan tempur dengan segala cara. Tapi tetap kemungkinan Prabowo akan memenangkan pilpres kali ini," ujar Ferdinand.

Sebelumnya, merujuk pencarian topik pada Google Trends, popularitas Prabowo kian hari makin memepet dan menguntit ketenaran Jokowi. Menurut data yang dikumpulkan analisis media sosial Drone Emprit, hasil Google Trends tersebut positif bagi kubu pasangan 02. Sebab, pantauan data Google Trends setahun lalu, pencarian topik Prabowo sangat kecil bahkan kurang dari separuh pencarian Jokowi.

Tren naiknya pencarian kata kunci Prabowo di internet terjadi pada Agustus lalu. Drone Emprit mencatat, pada bulan kemerdekaan ini pencarian Prabowo naik pesat bahkan mengalahkan pencarian kata kunci Jokowi.

Tren Prabowo memepet popularitas Jokowi makin terasa dalam sebulan terakhir ini. Interes atau ketertarikan publik pada pencarian Prabowo makin menempel ketat Jokowi. Interes yang diukur Google Trends hanya menampilkan proporsi volume pencarian. Sentimen positif dan negatif tidak terlihat dalam popularitas versi Google Trends.

Drone Emprit mencatat, bisa saja pengguna internet mencari informasi Prabowo ingin menelusuri sejarah masa lalunya yang kerap disangkutpautkan dengan masalah HAM. Bisa juga orang mencari informasi Jokowi ingin mengetahui keharmonisan dan keberhasilan membangun keluarga.

Interest di atas bisa diterjemahkan menjadi popularitas. Semakin populer semakin banyak yang ingin tahu. Populer di sini bisa dalam konteks positif maupun negatif.

"Semakin dekatnya interes atau popularitas Prabowo harus menjadi warning bagi kubu Jokowi. Publik makin banyak yang ingin tahu tentang Prabowo," tulis tim Drone Emprit.

JK Mengaku Sedih Melihat Konflik Sesama Muslim

Wakil Presiden Jusuf Kalla mengaku sedih melihat konflik di dunia Islam saat ini, baik sesama Muslim dalam satu negara maupun konflik antar negara Muslim. Ia berharap Nahdatul Ulama bersama pemerintah ikut menjaga perdamaian dunia sesuai dengan rekomendasi yang diberikan pada pemerintah.

"Kalau kita melihat dunia Islam pada hari ini, maka tidak lepas dari pada masalah kedaulatan dan masalah keadilan yang menyebabkan satu satu sama lain berperang," kata JK di Pondok Pesantren Miftahul Huda Al-Azhar, Banjar, Jawa Barat, Jumat 1 Maret 2019.

Politikus partai Golkar ini mengungkapkan saat ini dirinya sedih dan prihatin dengan banyaknya negara Islam yang berperang. Baik sesama warga negaranya maupun antar negara Islam.

"Kurang lebih 15 negara berperang satu sama lain, berperang denga rakyatnya, atau berperang dengan negara Islam lainnya. Dan bekas negara penjajahnya melihatnya dengan tersenyum," ujarnya.

Menurutnya negara yang berkonflik sebenarnya mempunyai dasar republik, namun dalam pelaksanaan pemerintahannya justru monarki kerajaan.

"Apakah itu Suriah, Irak, Libya, Nigeria, Mesir, Tunisia semuanya berdasarkan republik, tapi perilakunya seperti kerajaan. Tanpa memperhatikan kedaulatan rakyatnya maka timbullah perang satu sama lain," ujarnya.

Kondisi ini membuat dirinya sebagai umat Muslim bersedih. Ia berusaha mencari solusi untuk mencari jalan perdamaian bersama pemerintah.

"Ini memberikan kita suatu kesedihan dan upaya tentu kita lakukan bagaimana membantu, dalam batas kemampuan kita untuk menjaga perdamaian," tegasnya.

JK mengungkap langkah konkret yang dilakukan oleh pemerintah untuk perdamaian dunia, dan mengupayakan perdamaian di negara dengan penduduk Muslim.

"Di sekitar negara di Asean ini, Filipina alhamdulillah sudah hampir selesai persoalannya, sudah ada perdamaian. Tapi di Thailand Selatan belum, Myanmar juga belum selesai, belum berakhir, masih kita upayakan. Indonesia mempunyai peran yang sangat penting untuk negara negara tersebut," katanya.

Pemilu Serentak 2019 Berpotensi Kacau

Maraknya kampanye hoax jelang Pemilihan Umum 2019 dinilai sebagai kegagalan partai politik dan negara dalam memberikan pendidikan politik kepada masyarakat.

"Pendidikan politik untuk 2019 ini sudah tidak memungkinkan. Yang bisa kita lakukan membatasi hoax," kata pengamat politik LIPI Syamsuddin Haris dalam diskusi publik bertajuk Hak Konstitusional Pemilih dalam Negara Demokratis, Kamis (28/2). Diskusi ini dipimpin Direktur Eksekutif Jenggala Center, Syamsuddin Radjab.

Pembicara lainnya, peneliti FORMAPPI Lucius Karus memperingatkan Pemilu serentak 2019 berpotensi kacau. Indikasinya bisa dilihat dengan adanya warga negara asing kecolongan masuk daftar pemilih tetap (DPT) juga anak-anak muda genap berusia 17 tahun pada 17 April nanti tapi tidak masuk daftar pemilih tetap (DPT).
Road To Senayan

Permasalahan ni muncul, menurut dia, lantaran DPR tidak pernah berpikir kualitas Pemilu yang berintegritas.

"UU Pemilu dibahas menjelang pemilu. Ada Pasal 378 yang mengatakan jika ada satu orang saksi yang melakukan protes setelah penghitungan suara di TPS, maka surat suara yang sudah dihitung itu dihitung lagi," kata Lucius.
loading...

Khazanah

Internasional

Khazanah

Timur Tengah

Nusantara

© Copyright 2019 OposisiNews | All Right Reserved